Ritual 'Sabar'
"Sabar, Tio." "Sabar, Tio." Ibu selalu mengulangnya berkali-kali, tapi tidak lagi membuatku jengkel, kalimat itu telah menemaniku bahkan sejak aku belum mengenal aksara, apalagi mengenal makna. Tio hanya coba menghubungkan mainan yang tidak kunjung dibelikan dengan kata 'sabar', menghubungkan nasi yang lama sekali berada dalam dandang, sementara perutku sudah keroncongan dengan kata 'sabar', menghubungkan nasi yang sedikit dan dibagi beberapa piring, padahal perutku masih sangat lapar dengan kata 'sabar'. Kata sabar selalu berbalut dengan senyum teduh Ibu, dengan gerakan tangan yang mengelus dada dan aku yang merengek berganti melongo menatap Ibu dan mulai memelankan suara, tanganku menirukann gerakan tangan Ibu dan mendadak melupakan keinginanku. "Tidak semua yang kita inginkan harus terpenuhi sekarang ya, Nak. Selalu ada keadaan yang membuat kita harus bersabar menunggunya" Kalimat itu terlontar di depanku dengan Ibu ...