Posts

Showing posts with the label Cerita Bersambung

Tersembunyi di Balik Asumsi (5)

Image
Sumber: Google "Hei, kau ikut turun ke lapangan?" Seseorang menepuk pundak Fairish dari belakang. Ia menolak ajakan teman satu kelasnya itu dengan gelengan dan senyuman. Demo terjadi hari ini, sesuai dengan kesepakatan kemarin sore, tapi untuk demo yang kesekian ia memilih menolak. Saat kawannya berlalu, ia kemudian bergegas melangkah melewati ruangan demi ruangan, menuju ruangan paling ujung, beberapa temannya sudah menunggu, untuk memulai rapat. "Teman-teman demo terjadi hari ini, itu artinya waktu kita menuntaskan pekerjaan ini tidak boleh lebih dari dua minggu," ucap Fairish memulai rapat. "Kita kekurangan dana untuk gerobak, Bang." Seorang anggota rapat menyahut. "Dari terget, kurang berapa gerobak?" tanya Fairish. "Dua, Bang." "Untuk modal mereka, dananya bagaimana? Sudah sesuai target?" "Untuk yang itu, sudah, Bang." Seseorang yang duduk di pojokan menyahut. "Baik, untuk dana pembua...

Tersembunyi di Balik Asumsi (4)

Image
Sumber: Google Tidak lagi terlihat Fairish yang ceria dan senantiasa menampakkan deretan giginya, sepanjang perjalanan ia terus merenung, memikirkan nasibnya di kemudian hari, jika pabrik itu benar-benar ditutup, maka makan sehari sekali belum tentu bisa, tidak lagi ada kesempatan menempuh pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi, mungkin itu adalah serentetan fase buruk yang akan dialaminya dikemudian hari, yang menyita pikirannya sekarang ini. Bocah itu mulai kesal sendiri, tangannya mengepal sedari tadi. Sekilas ide tentang: Belajar yang lebih giat, membuatnya sedikit memiliki harapan untuk mengubah apa yang akan terjadi, dengan giat belajar maka ia akan mudah sampai pada titik sukses, misalnya nanti lulus dari perguruan tinggi, ia akan membela orang-orang pabrik dan menolak terang-terangan asumsi ratusan orang itu, dengan begitu semua orang yang bernasib sama sepertinya, akan tetap makan setiap hari dan akan tetap melanjutkan sekolah. Selepas karung yang dibawa Narto...

Tersembunyi di Balik Asumsi (3)

Image
  Sumber: Google "Selamat siang saudara-saudara, saya mengabarkan dari tempat produksi air minum kemasan di wilayah A. Di belakang saya, ratusan mahasiswa sedang memprotes perihal jumlah sampah yang menumpuk di pelosok negeri, sampah didominasi botol dan gelas plastik ..." Suara itu terdengar di seluruh pelosok negeri saat tombol televisi dinyalakan atau pada saat sebuah aplikasi di ponsel menayangkannya. Liburan sekolah kali ini, Fairish mendengar secara langsung suara reporter mengabarkan berita, atau melihat mereka yang tengah bergerombol di depan sebuah tempat yang selama ini disebutnya sebagai pabrik air minum kemasan. Bocah itu sering membayangkan tentang sebuah tempat yang menakjubkan, mesin yang bergerak sendiri, air yang tertuang tanpa bantuan tangan manusia. Baginya sebuah kebanggaan jika suatu saat bisa berada di dalam  pabrik, melihat benda gagah itu bekerja. Setidaknya seminggu sekali ia memantapkan kembali mimpinya untuk singgah di tempat luar bias...

Tersembunyi di Balik Asumsi (2)

Image
Sumber: Google Bergegas melepas tas dan menaruh kertas yang ada dalam genggamannya di atas meja. Lupa melepas seragamnya, bocah itu bergegas menuju dapur, mengangkat tudung saji, terbelalak matanya melihat ikan goreng dua biji di atas piring, disebelah piring ada nasi yang uapnya masih mengepul. "Makan ikan hari ini, Mak?" ucap Fairis sumringah, mak di sampingnya mengangguk mantap. Nasi di ambil secukupnya dan diletakkan di atas piring, hampir saja tangan itu mengambil satu ikan, pikirannya mendadak terfikirkan tentang jumlah ikan, jika jumlahnya dua, sementara penghuni rumah tiga orang, itu artinya akan ada satu penghuni rumah yang tidak makan ikan. Melihat Fairish ragu mengambil ikan, mak bertanya, "Kenapa Fairish?" "Mak sudah makan?" tanya Fairish. "Sudah," jawab mak singkat, Fairish tahu jika kali ini mak berbohong, bahkan nasi yang masih mengepul itu belum terjamah tangan sama sekali, tapi mak mengaku sudah makan. "Fai...

Tersembunyi di Balik Asumsi (1)

Image
Sumber: Google Bocah lelaki berbaju putih kecokelatan berjalan gontai melewati jalan setapak. Baju itu adalah hadiah dari bapaknya yang pulang bekerja tempo hari, katanya diberi seseorang yang tidak dikenal. Kala itu wajahnya sumringah menerima bingkisan seragam sekolah, biarpun tidak baru, pakaian itu lebih dari cukup menyelamatkannya dari gigitan semut dan masuk angin, baju lamanya yang bolong sana-sini membuatnya sering bentol-bentol saat melewati pohon jambu di dekat sekolah dan sesekali membuatnya masuk angin saat musim hujan tiba. Dengan membawa lembaran hasil ujian, hatinya terus berdoa, semoga siang ini mak punya uang untuk memasak dan menanak nasi, karena ujian tadi membuatnya berpikir ekstra keras dan secara tidak langsung membuat cacing-cacing diperutnya meronta. "Assalamu'alaikum," Sampai di depan pintu bocah itu melepas sepatunya dan mengucapkan salam. Mak dari dalam menjawab salam dan tersenyum, jagoannya pulang menimba ilmu. Bagi Mariati sekolah...

Altha: Namanya Hitam

Image
   Sumber: Google Sebuah buku tergeletak tepat di sebelahku, saat aku mulai duduk dan kembali mengatur nafasku yang tak karuan, jarak antara tempat kos dan stasiun lumayan jauh, ditambah tempat dudukku yang sedikit bersembunyi di antara kerumunan, lelaki itu tidak akan mungkin menemuiku, untuk urusan mama biar kupikir nanti, harus kunormalkan kerja otak dan hatiku terlebih dahulu, setelah keadaan mencekam beberapa menit yang lalu, sebuah kejadian yang tidak akan kulupakan seumur hidupku, semua detail kejadian membekas di ingatanku. Memegang buku itu, aku coba mengamati sekitar mungkin diantara mereka ada yang merasa bukunya terjatuh atau tidak sengaja tertinggal, namun semua orang di sekelilingku sibuk dengan dirinya sendiri, sebagian mengobrol, sebagian yang lain menyandarkan tubuhnya pada kursi tunggu, wajah-wajah lelah terlihat di sana, mungkin pekerjaan seharian tidak memberinya kesempatan untuk beristirahat.   Dengan lancang aku memegang bu...

Altha: Melarikan Diri

Image
Sumber gambar: Google Motor berhenti di depan salah satu kamar kos, lelaki itu turun dan menatapku cukup lama, korneanya menelusuri tubuhku dari ujung kepala sampai kaki. "Aneh." Desisnya pelan, mengalihkan pandangan, merogoh kantong mencari sesuatu, wajahnya nampak terlihat lega setelah menggenggamnya: kunci. Digenggamnya kunci itu, dan melangkah menuju pintu. Jantungku mulai berdetak tidak normal, keringat mulai membasahi wajah dan telapak tangan, dalam hitungan menit aku akan benar-benar hancur dan hina. Masih ada hitungan menit sebelum benar-benar terjadi, aku bisa lari ke sudut manapun, keadaan juga mendukung, sekitaran kosan tidak ada satu orangpun, hanya kami berdua. Tapi, bapak terkapar tak berdaya dan membutuhkan aku. Ia tersenyum sesaat ke arahku dan memberi kode berupa anggukan kepala, memintaku untuk masuk ruangan. Seluruh tubuh yang bergetar kupaksa masuk, diatas segala cemas yang berkecamuk, terlintas satu hal yang sedikit membuatku tenang, walau...

Altha: Pilihan Berat

Image
Sumber gambar: Google Mengakhiri tangisnya, mama melepas pelukanku begitu saja, aku gelagapan menyaksikan ia bangkit dan ingin bergerak menjauhi ruang tamu, namun suaraku menahannya, "Mama, ijinkan Altha bicara dulu." Ia menoleh beberapa saat, mengamatiku yang masih sesenggukan, mengurungkan niat dan kembali duduk di sebelahku. Aku sedang ingin menawarkan hal-hal mustahil yang bahkan sebelum kuucapkan sudah kutebak jawaban mama atas ideku "Aku siap bekerja dari pagi hingga petang, Ma. Asal jangan di tempat itu," ucapku seraya memohon, mencoba meminta mama untuk berbaik hati mengurungkan niatnya atasku, tapi, bukankah luka bapak juga bukan suatu kejadian yang bisa diurungkan? "Kalaupun kamu bekerja pagi sampai malam, gajimu belum tentu cukup untuk membiayai pengobatan Bapak. Belum lagi gaji yang dibayar di akhir bulan, sementara Bapakmu meregang nyawa. Otakku tidak bisa lagi mencari solusi, selain apa yang sudah kusampaikan padamu." Mama ...

Altha: Diluar Nalar

Image
Sumber gambar: Google Suasana di ruang tamu terlihat sepi saat aku keluar kamar dan berusaha menghilangkan bekas air mata, mencoba terlihat baik-baik saja. Saat aku melintas di depan kamar nenek, terlihat beliau yang kusyu dalam salat malamnya, sementara mama di atas ranjang sudah tertidur lelap, mereka tidak melihat aku yang melintas untuk pura-pura ke kamar mandi, padahal ingin menyaksikan keadaan di luar kamar setelah terdengar ucapan yang menyakitkan. Aku masuk ke kamar mandi hanya pura-pura mencuci tangan dan melintas kembali di depan kamar nenek, otakku berpikir lebih jauh lagi setelah sebuah pengakuan gamblangnya beberapa menit yang lalu, mereka menyebut dirinya sebagai pekerja malam, tapi melihat nenek yang menangis di atas sajadahnya malam ini, rasa-rasanya seperti sebuah hal yang mustahil, mungkin karena image seorang pekerja malam bagi kebanyakan orang adalah buruk, padahal sebuah kenyataan yang tidak pernah mereka ketahui, selalu ada kemungkinan jika merekalah ya...

Altha: Apakah lelucon?

Image
Sumber gambar: Google Kali pertama tidur di rumah mama membuat mataku susah terpejam, di sebelahku Galang sudah sampai di alam mimpi, tidak butuh waktu lama untuk membuatnya tertidur, saat kepala bertemu bantal, maka saat itu pula terdengar suara dengkuran. Di sebelahnya aku hanya menatap wajah polosnya, kemudian menyapu pandangan, mengamati tembok kamar yang kosong tanpa gambar atau foto, di sebelah kiri ranjang tempatku tertidur sebuah lemari yang tidak terlalu besar berdiri gagah, di depan lemari itu ada dua koper dan dua ransel yang berisi pakaian dan segala peralatan yang kami bawa, yang belum sempat kami masukkan dalam lemari. Wajah bapak tiba-tiba terlintas dalam pandangku, manusia hebat itu sedang apa sekarang? Kenapa sudah lama tidak menemui kami? Bahkan saat rumah dijual dan kami harus tinggal di tempat ini, ia masih tidak juga datang untuk memastikan keadaan putra-putrinya. Aku tahu, tidak wajar sebenarnya, setelah perilaku buruk yang terdengar oleh telingaku, kem...

Altha: Target

Otak dipaksa untuk berpikir keras lagi akhir-akhir ini, harusnya ia sudah katam menghadapi masalah besar yang menghadangnya dengan menikahi lelaki itu, tapi nahas apa yang dipikirkannya sebelum menikah ternyata tidak sebanding dengan kenyataan yang terjadi, harusnya menikahi lelaki kaya cukup membuatnya duduk di rumah dan menikmati hidup, atau bahkan lebih mudah membawa Ibunya ke rumah sakit untuk berobat, tapi kenyataanya lelaki kaya yang dinikahinya adalah lelaki yang mungkin saja memberinya kebahagiaan dalam wujud materi, meskipun sesaat, bukan wujud kasih sayang.   Ia sempat berfikir bahwa pernikahannya dengan lelaki itu tidak lebih karena cinta, tapi demi hidup layak dan kesehatan Ibunya, tapi satu rumah dan tanpa cinta adalah satu hal yang pelan-pelan menyakitinya, apalagi hadirnya wanita lain yang mengisi hidup suaminya di luaran sana. Benar kata beberapa kawannya yang menikah karena perjodohan, awal mula menikah mungkin tidak ada cinta, dan mencoba menjalani hari-...

Altha: Rumah Mama

Gerimis yang turun beriring dengan langkah mama yang mendekat, di sebelahnya seorang lelaki paruh baya berbincang-bincang dengan Mama. Galang sudah siap menggendong tas yang berisi pakaiannya dan menunjuk satu koper yang berisi buku-buku pelajaran sekolah, memintaku untuk membawanya. Aku sudah siap dengan semua pakaian dan peralatanku yang sudah kumasukkan dalam satu tas besar. Selepas berbincang dan bersalaman dengan lelaki itu, mama menggandeng tangan Galang dan berpamitan, aku membuntut di belakangnya. Taxi parkir di depan rumah, Mama membuka pintunya dan mempersilakan kami masuk lebih dulu. Taxi meluncur melewati perjalanan yang lenggang. Gerimis masih turun dan aku coba menerka-nerka ke mana tujuan kami, aku tau tujuannya adalah rumah Mama, tapi rumah mama di daerah mana? Setelah melewati jalan besar, Taxi berbelok ke sebuah gang kecil, masuk beberapa meter, mama meminta Taxi berhenti. Barang-barang dari bagasi di keluarkan dan kami turun. Tanpa ekspresi mama menyeret kop...

Altha: Siapa?

Setelah Mama keluar rumah dan kembali menutup pintu, aku masih mencerna kalimatnya yang baru saja disampaikan. Bapak yang tidak terlihat batang hidungnya akhir-akhir ini, terkesan banyak rahasia yang coba disembunyikan mereka dariku. Mungkin strategi Mama demi mengusai harta Bapak. Tapi, sejujurnya selama ia menetap di rumah ini, aku menepis semua cerita-cerita seram tentang Ibu tiri, aku masih melakukan segala aktifitas tanpa terganggu oleh perintah Mama. Bahkan semua pekerjaan rumah dikerjakannya seorang diri, mengepel, menyapu, bahkan memasak, meskipun masakannya tidak pernah terjamah tanganku dan Galang. Kupatenkan di kepalaku, bahwa tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan Ibu di rumah ini, aku juga malas memanggilnya Mama, apalagi Galang, bocah itu justru lebih dingin dari aku, bahkan semua ucapan Mama tidak pernah di gubris, ia beranggapan bahwa Mama adalah pembantu yang sengaja di datangkan Bapak, untuk bersih-bersih di rumah ini. Tidak habis pikir, kenapa Galang yan...

Altha: Rahasia

Les yang diliburkan sementara waktu, membuat gadis itu bisa menikmati hari dengan santai, berbeda dengan hari-hari sebelumnya, hampir setengah hari membuatnya tidak berhenti bergerak. Sembari menonton televisi, siang itu tugasnya menunggu Galang pulang sekolah dan menyiapkan makan siang untuk sang Adik. Galang datang dengan muka penuh bulir keringat, wajahnya sumringah mengacung-acungkan kertas di depan muka Altha, disodorkannya kertas ulangan harian matematika yang dihiasi dengan angka sembilan puluh lima di sudut kanan atas. "Sembilan puluh lima mbak, besok kalau Galang belajar lebih giat lagi, bakal dapat nilai sempurna." Ucapnya antusias, menampakkan deretan gigi yang bagian depannya menempel sisa noda bekas cokelat batangan. "Bekas cokelat dibersihkan dulu, Dek. Makan cokelat tapi lupa sama mbak," Altha menggodanya dengan kalimat yang pernah diucapkannya dulu. "Nanti kalau beli lagi, tak bagi dua. Yang separuh buat aku, separuhnya lagi bua...

Altha: Hal-hal ganjil

Bau masakan sampai di kamar, membuat Altha mengerjap. Setengah sadar, ia melangkahkan kaki menuju dapur, mencari sumber bau. Seseorang berpakaian daster tengah sibuk mengaduk masakan di atas kompor. "Ngapain?" Ucap Altha tiba-tiba, membuat tubuh itu berjingkat. "Masak," jawab Yunda singkat. "Nggak perlu repot-repot, aku bisa memasak sendiri." Altha dingin pagi ini, semalaman ia tidak bisa tidur, mencoba mencerna keadaan yang sedang dialami, dan lebih penting lagi, jika bukan karena wanita itu, mungkin ibu tidak akan kambuh dan masih berada di sampingnya hari ini. Meskipun berusaha ikhlas, tapi hatinya masih berbolak-balik. Yunda tak kalah dingin, ia bahkan tidak menggubris kalimat yang baru saja disampaikan Altha. Selepas memastikan masakannya matang, ia matikan kompor dan berjalan melewati Altha. Wanita itu berhenti lima langkah di depannya, menoleh dan melihat Altha yang sedang melihatnya, pandangan mereka bertemu. "Masakanku mungkin ng...

Altha: Seimbang

Bau alkohol menyeruak, saat Yunda mengigau, memanggil-manggil suaminya. Di balik pintu kamar yang sedikit tebuka, Altha dan Gilang mengintip, menyaksikan apa yang akan terjadi setelah tubuh sempoyongan itu ambruk. Tubuh yang masih bergelimbungan di atas lantai dan terus memanggil-manggil nama Bapak. Ibu tiri juga manusia, bukankah sesama manusia tugasnya adalah saling menolong, terlepas apakah wanita itu sudah merusak keharmonisan keluarganya atau tidak, ia tetap berhak untuk mengangkat tubuh itu, dan membopongnya masuk ke dalam kamar. Dalam sekali pikir, Altha melangkah mendekati wanita itu, tetapi menahan Adiknya untuk turut serta. "Kamu nggak apa-apa?" Altha memastikan keadaan wanita itu dengan sedikit menggoyangkan tubuhnya. Setengah sadar, Yunda menatap samar-samar gadis di sebelahnya, "Jangan sentuh aku!" katanya. "Aku bisa bangun sendiri." Ia coba bangkit dari tidur, namun Alkohol yang dikonsumsinya terlalu banyak, membuat...