Posts

Showing posts with the label Flash Fiction

Pada Serentetan Keinginan

Image
Sumber: Google Dari sekian hari saat aku menyadari bahwa pembunuhan mengintaiku setiap waktu, sejak saat itu pula aku lebih berhati-hati menggerakkan ekorku, mataku lebih jeli lagi melihat keadaan, waspada jika tiba-tiba ada bayangan hitam besar di permukaan perairan, seperti kata kawanku, yang nyawanya hampir melayang, ia bahkan mempraktekkan bagaimana keadaan napasnya yang terengap-engap saat berada dalam tempat gersang yang membuat ekor dan siripnya susah digerakkan, yang ia tahu disekelilingnya banyak sosok-sosok berbadan tegap, kutahu jika sosok-sosok itu disebut: Manusia. Semasa kecil saat berkumpul bersama di sekitar terumbu karang, ibu pernah bilang, bahwa nasib kita bergantung pada sosok-sosok di atas sana, di daratan, mereka adalah manusia yang setiap hari datang ke laut untuk mencari kami dan dengan benda yang mereka bawa, akan menyeret kami ke atas sana untuk dijadikan santapan. Saat aku mendengar cerita Tuna, saat itu juga aku mengingat apa yang pernah ibu sampai...

Korupsi

Ruangan ini pengap dengan suara-suara penghakiman, sementara aku masih sibuk mencerna kata-kata yang ditulis seorang penulis muda dari kabupaten sebelah, diangkatnya sebuah tema tentang tangisan ibu pertiwi akhir-akhir ini. Topik hangat jadi perbincangan, ditemani secangkir kopi atau teh, dan beberapa potong gorengan yang tersaji di atas piring. Teman kerjaku ikut nimbrung, berapi-api ia menyampaikan argumennya. "Ngapain dipilih lagi, lah selama menjabat, tidak ada wujudnya, lihatlah bahkan balai desa saja hampir roboh," Danang mulai menyampaikan argumennya. "Selama ini uang dari pemerintah kemana? dilahap dia dan aparat-aparatnya apa?" Bapak paruh baya yang duduk bersila mulai nimbrung. "Iya mungkin." Sembari mengembuskan asap yang mengepul, tukang ojek di sebelah Danang menyahut. "Kalau sudah kayak gini, masih mau pilih lagi?" Bapak berbaju batik dan bawahan hitam datang-datang langsung menyahut. Aku tidak menggubris kalimat-kalima...

Tanpa Kejelasan

Image
Sedang mencoba 'mengawinkan' alunan nada dan serentetan kata-kata. Tips membaca cerita: Putar dulu videonya dan mulai membaca ceritanya hehe. Semoga bener-bener 'kawin'. Sumber: Youtube Foto dua paslon yang terlihat mentereng di jalan-jalan, sering membuat Ibu paruh baya menatapnya lekat-lekat, sesekali bahkan membuatnya meneteskan air mata. "Ibu kenapa?" tanya seorang lelaki yang duduk di sebelahnya. "Abangmu apa kabar?" Kali ini dengan mata yang masih menatap foto itu, beliau mulai sesenggukan. "Kita selalu kirim doa, Bu," Sang anak berusaha menenangkan, diusapnya air mata yang mengalir dan mulai memeluknya. Tak terhitung aksi kamisan yang beliau ikuti, demi sebuah harapan yakni kembalinya sang anak dalam pelukannya, minimal jika tidak lagi bernyawa, ia menjadi tahu di mana jasad anaknya di kebumikan. Ia yang kini mulai sakit-sakitan tidak lagi mampu mengikuti aksi itu, tidak lagi bisa membawa foto putra ...

Menjadi Manusia

Image
Sedang mencoba 'mengawinkan' alunan nada dan serentetan kata-kata. Tips membaca cerita: Putar dulu videonya dan mulai membaca ceritanya hehe. Semoga bener-bener 'kawin'. Sumber: Youtube Di saat semua manusia terlelap dalam tidurnya, satu manusia lain berada beberapa jengkal di depanku tersungkur dan babak belur, setelah lima pemuda di bantu massa yang jumlahnya sama mengeroyoknya tiba-tiba. Ia yang berjalan santai menyusuri jalanan gelagapan melihat sekelompok orang mendekat ke arahnya dan mendaratkan pukulan pada beberapa anggota tubuhnya, ia yang berusaha menepis pukulan dan tendangan kalah telak dengan jumlah mereka yang banyak, kemudian memilih pasrah, membiarkan darah mengalir di hidung dan mulutnya. Aku yang baru saja sampai di tempat dimana ia tersungkur, hanya bisa menatapnya iba, sembari sempoyongan mencari bantuan. Namun nihil, tidak ada satupun yang mendekat ke arah kami. "Ara, ini tentang pesan semalam," katanya terbata-bata s...

Mempertanyakan Rasamu

Image
Sedang mencoba 'mengawinkan' alunan nada dan serentetan kata-kata. Tips membaca cerita: Putar dulu videonya dan mulai membaca ceritanya hehe. Semoga bener-bener 'kawin'. ---- Sumber: Youtube Amarah selalu berhasil menguasai diri, sekarang aku jadi manusia yang paling suka marah-marah, menganggap apapun yang tidak seirama dengan harapanku, selalu salah dan terakhir ketika ia datang, setelah bekerja seharian membuatku bersikap seperti anak kecil. "Sayang, bisa minta tolong buatkan kopi." Ucap suamiku sembari melepas sepatunya. Tanpa menjawab atau mengiyakan, aku bergegas menuju dapur dengan muka cemberut. Pasalnya aku mendadak kesal dengannya, ponselnya yang tertinggal, membuatku tau jika banyak wanita ganjen yang sering chat tidak jelas, belum lagi beberapa pesan yang mendarat terlihat romantis. Setelah kopi tersaji, aku meletakkannya di meja ruang tamu, tanpa berbicara sepatah katapun, aku berlalu meninggalkannya dan masuk ke kamar, kukira l...

Cerita Tentang Manusia Istimewa

Image
Sedang mencoba 'mengawinkan' alunan nada dan serentetan kata-kata. Tips membaca cerita: Putar dulu videonya dan mulai membaca ceritanya hehe. Semoga bener-bener 'kawin'. --- Sumber: Youtube Kuceritakan tentang seorang lelaki yang sore ini duduk di sampingku, menonton televisi yang tengah menyiarkan berita demo yang sedang marak menjadi perbincangan akhir-akhir ini. Keriput terlihat di wajahnya, tubuhnya mungkin tidak sekuat dulu, tapi semangatnya tidak pernah redup, terlebih yang membuatnya selamanya akan jadi sosok istimewa setelah Ibu adalah tentang hal-hal baik yang selalu ia lakukan dan tentang perjuangannya demi anak-anaknya. Mungkin begitu cara ampuh yang beliau terapkan pada anak-anaknya, termasuk aku, tidak lagi perlu perintah 'harus berbuat baik', jika dari sikap yang beliau contohkan cukup membuatku tau jika berbuat baik itu sebuah keharusan. Perjumpaanya dengan Istrinya, yang tak lain adalah Ibuku, berawal juga dari 'hal baik' ...

Ucapan 'Selamat Tinggal' di Suatu Malam

Image
Sedang mencoba 'mengawinkan' alunan nada dan serentetan kata-kata. Tips membaca cerita: Putar dulu videonya dan mulai membaca ceritanya hehe. Semoga bener-bener 'kawin'. --- Sumber: Youtube Malam itu ia datang dengan senyum yang tidak seperti biasanya dan anehnya ia menjadi sosok yang mulai memikirkan perkataan orang lain atas dirinya, padahal sebelumnya, kalimat 'bodo amat' yang selalu ia utarakan untuk menasehati, selalu mampu membuatku meredam tangis dan amarah. "Mereka semua hanya sok tau tentang hidup lo. Percuma juga ngejelasin tentang diri lo ke mereka, lagian mereka juga bakal tetep berdiri diatas asumsinya. Kalau nyakitin, tutup kuping. Oke." Kalimat itu berulang sampai di telingaku, selepas curhat yang panjang. Tapi malam itu, ia merenungi diri sendiri, selepas mendengar banyak perkataan orang-orang di sekitarnya, "Kau mau jadi apa? Jadi mahasiswa abadi? Ngapain terus-menerus ikut demo, mending selesaikan skripsimu, bi...

Pada 'Nyaman' yang Mana?

Image
Sedang mencoba 'mengawinkan' alunan nada dan serentetan kata-kata. Tips membaca cerita: Putar dulu videonya dan mulai membaca ceritanya hehe. Semoga bener-bener 'kawin'. ---   Sumber: Youtube. Ya, Ada apa? - Sebuah balasan singkat mendarat ke handphone nya. Sedang sibukkah hari ini? Beberapa kali pesanku, cuma dibaca dan nggak dibales - Balasan kembali kukirimkan Pesan yang terakhir, menambah deretan pesan sebelumnya, berakhir dengan centang biru tanpa balasan, ia jadi memaki diri sendiri, kenapa ia jadi manusia yang setolol ini, menunggu balasan seorang lelaki yang bahkan tidak punya kewajiban untuk membalas pesan darinya. Sejak kapan seorang Amanda menjadi manusia yang menunggu sebuah pesan mendarat di ponsel? Padahal jauh sebelum perkenalannya dengan lelaki itu, Amanda adalah seseorang yang tidak antusias memegang ponsel, baginya dunia nyata jauh lebih bisa membuatnya menjadi 'manusia'. Perkenalannya dengan beberapa lelaki yang dik...

Yang Terasingkan: Menuntaskan Kewajiban

Pagi itu aku datang kembali memberanikan diri membawa selembar surat itu, awalnya memang sudah kuduga lelaki itu akan bentak-bentak di depanku, beberapa kali ia hampir memukulku dan kubiarkan hal itu, namun wanita itu rupanya masih sedikit membelaku dengan beberapa kali pula mencegah tangan itu memukulku. “Mau apa lagi kau datang kemari?” ucap lelaki itu.   “Untuk terakhir kali saya datang kemari, mau meluruskan sesuatu, demi ketenangan Ramsha, mohon untuk diijinkan menyampaikan sesuatu,” jawabku. Duduklah kami di ruang tamu, kali ini Ibunya tidak memainkan handphone seperti tempo hari, memandangku lekat-lekat. “Mohon maaf sebelumnya, Pak, Bu. Mengingat semakin kesini penderitaan Ramsha terasa semakin menjadi, saya hendak memberi tahu, apa yang mungkin belum Bapak Ibu tahu, ada sebab yang membuat Ramsha melakukan tindakan-tindakan yang selama ini dirasa mengancam banyak nyawa dengan pisau lipatnya,” ucapku, mereka menyimak dengan seksama. “Semua penyebab...

Yang Terasingkan: Mengoreksi

Kami berhenti disebuah warung makan, mengingat makanan yang tersaji di kamar belum terjamah olehnya, maka dengan sok tahu menduga perutnya lapar, benar dugaanku, dengan lahap ia memakan makanan yang disajikan. “Sejak kapan dikurung?” tanyaku. “Setelah kau pulang aku dihakimi, lelaki itu menjelaskan pada Ibu jika penyebab luka itu adalah aku, dia tidak mengakui tentang alasanku memperlakukannya begitu. Seolah semua titik salah memang ada padaku,” jelasnya. “Kau kenapa tiba-tiba datang ke rumahku?” ia bertanya, kemudian melanjutkan memakan makanan yang masih tersisa. “Hendak memintamu pada Bapak Ibumu,” jawabku singkat, membuatnya tersedak. “Maksudmu?” “Melamarmu.” “Hah. Seriusan? Ini nggak bercanda?” ia memastikan kebenarannya dan aku mengangguk mantap. Setelahnya tidak ada kelanjutan membahas tentang hal itu, ia mendadak berubah, sesekali menatapku dan merenung, lebih banyak diam. Selepas makan, kami berjalan menyusuri jalan yang sama seperti tempo hari...

Yang Terasingkan: Membekas

Selepas menyodorkan gadged dan ia mulai membaca, sesekali ia menunjukkan kepadaku bagian yang susah ia lafalkan, aku membacanya dan ia menirukan apa yang kusampaikan. “Sha.” Sapaku, membuatnya menghentikan aktifitasnya sesaat dan menoleh ke arahku. “Hm,” jawabnya. “Nggak semua hal harus diselesaikan dengan pisau lipat itu, Sha.” “Dalam keadaan yang seperti tadi, pisau itu harusnya menembus jantung si keparat itu, biar mati sekalian,” jawabnya dengan mata melotot, jawaban yang tegas. “Kalau dia nggak mati, hal itu akan terulangi lagi.” Belum juga menjawab, ia melanjutkan perkataannya. “Semua orang akan ada pada fase buruk sebelum baik, Sha. Siapa tahu dia khilaf." “Gue nggak perduli dia khilaf atau apalah, dia mungkin bisa jadi orang baik setelah itu, tapi bagaimana dengan si wanita yang menderita seumur hidupnya. Lo nggak pernah jadi korban, makanya lo dengan entengnya bisa ngomong kayak gitu.” Kali ini mukanya merah padam, ada amarah yang terlihat....

Yang Terasingkan: Ramsha (Perempuan Istimewa)

Ia mengangguk, tanpa basa-basi lagi ia berdiri dan melangkahkan kaki menjauh dariku yang baru saja duduk di sebelahnya. “Sha, tunggu!” Kataku mencoba menahan langkahnya. Jalanan yang riuh, membuatnya terus berjalan tanpa mendengar kalimatku yang berusaha menahannya, hal ini kulakukan demi bisa mengenalnya, satu alasan yang membuatku kukuh ingin berkenalan: karena aku seperti menemukan diriku yang lain ada pada dirinya, manusia yang mau tidak mau harus menerima keadaan yang mencekam, bahkan sebelum kuketahui banyak perkara yang menimpanya selama ini. Namun aku yakin jika wajah datar dengan kelakuan yang hampir saja melenyapkan banyak nyawa, itu ada bukan karena keinginannya, tapi atas sebuah sebab dan alasan yang menyertai. Begini, aku jadi menganggap kita seirama perihal dunia yang seperti mengasingkan, dianggapnya kita manusia yang paling hina di muka bumi, tanpa mau tahu apa yang sejatinya kita alami. Dengan berusaha ingin mengenalnya, sebenarnya hal itu membuatnya terganggu, ...

Yang Terasingkan: Tentang Seorang Gadis

Tepat di depan sebuah rumah yang kemarin dimasuki dua wanita yang kubuntuti dari penjara, aku menunjuk. “Kau tau ini rumah siapa?” tanyaku. “Pak Doni, sama Ibu Laras. Kau tau, ada banyak tanda tanya di rumah itu,” jawabnya. “Tanda tanya?” “Kadang sering kudengar anaknya berteriak tengah malam. Tidak tahu apa sebabnya. warga sini pernah bilang jika gadis itu rada tidak waras, beberapa kali hampir menewaskan orang, Bapaknya hampir jadi korban.” “Disitu, di kamar atas, gadis itu sering terlihat murung. Aku mengamatinya dari kamarku.” Lanjutnya sembari menunjuk kamar yang dimaksud. Benar saja rumahnya berhadapan dengan rumah gadis itu, ia juga bercerita jika tidak pernah menyaksikan gadis itu tersenyum, bahkan justru ikut-ikutan parno mendekati gadis itu, rumor yang beredar mengatakan jika gadis itu beberapa kali menyerang laki-laki, diceritakan pula jika dalam satu minggu ini dua kali ia berurusan dengan aparat kepolisian, berhubung tidak ada korban dan Polisi menyadari jika ...

Yang Terasingkan: Perjumpaan Penuh Pembelajaran

Yang Terasingkan: Perjumpaan Penuh Pembelajaran Ruangan yang berisi puluhan orang berseragam, dengan masing-masing sel penjara yang berisi lima sampai enam orang, sebagian mereka mengutuk keadaan, sebagian lagi memilih lebih khusyuk menyapa Tuhan, ruangan pengap itu membuat masing-masing kepala sadar bahwa apa yang selama ini mereka lakukan adalah sebuah kesalahan. Aku terjebak berada pada satu tempat yang sama dengan mereka, pertama kali menginjakkan kaki di sini, kusangka semua yang terjadi adalah mimpi dan aku harus bangun untuk membuyarkan segalanya, namun kakiku menginjakkan kaki ditempat yang paling tidak ingin kusinggahi di dunia, awalnya aku seperti mereka yang mengutuk keadaan, kukatakan dengan lantang bahwa kejadian itu seolah menjebakku, tapi segalanya terlanjur diputar balikkan aku bisa apa selain mencoba memahami semua ini, dengan berusaha baik-baik saja, dan aku sampai pada fase dimana mendadak siang malam ingat Tuhan. “Segala yang terjadi di muka bumi sudah diatur...

Yang Terasingkan: Khilaf

Seseorang dengan pakaian sarung dan baju koko berdiri di samping ranjangku, tanpa memanggil dan membangunkan, ia hanya menatapku lamat-lamat, yang tengah berusaha menanggalkan kantuk yang tersisa. “Semalam kamu minum lagi?” suaranya sedikit membuatku terjingkat. Seraya bangun, pikiranku mencoba mengingat hal apa yang terjadi semalam. Terakhir sebelum ‘terbang’ menyergapku, aku hanya mengingat jika kawan-kawan menyodorkan benda memabukkan itu padaku. Pikiranku masih kanak-kanak, tidak ada jalan lain yang harus kutempuh, kecuali kembali mengkonsumsi butiran obat dengan jumlah yang cukup banyak. Benda yang membuatku lupa segala permasalahan. Semalam sebenarnya aku berniat untuk tidak pulang, seperti malam-malam sebelumnya, aku takut kembali mengecewakan Paman. Kepada anggukan kepalaku yang menyatakan ‘siap’ berubah, ternyata kuingkari sendiri. Rasa rindu yang menyergapku semalam, kalah dengan perasaan kecewa yang semakin hari justru semakin menambah volumenya, sebagian dari tub...

Topeng

"Pada jarak yang akan tercipta kali ini, aku tidak menyebutnya sebagai perpisahan, kau hanya minta pamit lebih dulu untuk memohonkan tentang 'kita' pada Tuhan." Batin Arini, air mata masih menggenangi kelopak matanya. "Raga siapa lagi yang bisa kupeluk seperti sebelumnya, suara siapa lagi yang bisa meredam amarahku," desisnya pelan. Suara-suara yang keluar dari mulut Arini, menyisakan duka mendalam bagi siapapun yang mendengarnya, banyak pelukan mendarat kearahnya, salah satunya Bapak Ibu Dimas dan Angga, adik kandung Dimas. Namun ia masih mematung, menatap kosong sebuah handuk yang tergeletak diatas kursi, handuk yang setiap hari digunakan Dimas setelah mandi, sesekali bola matanya bergerak ke arah ruang tengah, memandangi kursi yang sering mereka duduki, yang sering mereka pakai untuk merebahkan badan yang lelah seharian bekerja. Mendadak hatinya hangat, membayangkan pelukan ternyaman, kecupan mesra, dan tangisnya semakin menjadi. "Tuhan, s...

Egomu Pemenangnya

Terakhir kau memaksaku untuk bercerita tentang Larasati, padahal sekian lama aku berusaha membunuh dirinya dalam hati dan pikiranku. Aku tau perihal rasa, akan banyak tentangnya yang akan menyakitimu, tapi kenapa, setiap kali ada celah kau terus mengarahkan pembicaraan kearahnya. "Aku tidak ada apa-apanya jika dibanding Larasati." Ia kemudian mencoba membandingkan dirinya dengan Larasati. Pahamku masing-masing wanita punya istimewanya, jika sudah begini aku seperti ingin mundur lagi, menanyai hatiku lebih dalam lagi, karena usahaku untuk mencintaimu mendadak sia-sia, harusnya dari awal aku paham, jika cinta bukan tentang usaha, tapi tentang nyaman dan terbiasa. Tapi, terbiasaku adalah mendengarmu mengulik lagi tentang suatu hal yang seolah terpaksa kujalankan, sungguh sejauh ini berjalan dan hidup seatap denganmu, aku selalu berusaha melibatkan hatiku didalamnya. "Kau tidak pernah benar-benar mencintaiku, aku tau itu," ucapmu sesenggukan. "Tetap ada ...

Penilaian

Sepagi ini telingaku riuh dengan celoteh tetangga, tentang rumah sebelah yang dihadiri lelaki asing. Penghuni rumah itu seorang janda beranak dua, tapi masih muda, kulit putih dan bertubuh jenjang sering membuat mata para lelaki yang beristri menguntit dibalik jendela, tapi anehnya yang justru dapat perlakuan buruk adalah Ana, janda beranak dua itu. Katanya, kalau jadi orang jangan ganjen dan sok cantik, apalah daya jika yang keliru adalah mata dan pikiran kotor suaminya sendiri. Wajahnya hanya dibalut bedak tipis dan lipstik dengan warna tidak mencolok, tapi kalau memang pada dasarnya cantik ya cantik saja, lagian definisi cantik itu relatif. "Lihat itu Ana, dirumahnya ada lelaki, ngapain aja berdua di dalam rumah, semaleman." Ucap mbak Lasmini tetangga sebelah rumahku. Istriku Lisa, hanya mengangguk merespon ucapan itu, diliriknya aku yang mematung di depan pintu, aku tersenyum kearahnya, kurasa ia sudah paham maksudku. Tempo hari ia juga jadi korban hasutan orang-...