Posts

Ulasan Cerpen: Kamar Mandi Mertua

Cerpen berjudul 'Kamar Mandi Mertua' yang bisa teman-teman baca di ngodop.com, adalah buah karya seseorang yang berdomisili di Malang, bernama Mabruroh Qosim. Sebelum menilik lebih jauh tentang unsur ekstrinsik dan intrinsik, ingin saya katakan bahwa cerpen ini membuat pembaca jatuh cinta, cerita yang susah di tebak, bikin penasaran, dan tentunya endingnya yang 'Wow'.

Berbicara tentang unsur Instrinsik, maka hal yang dibahas pertama kali adalah tema. Cerpen yang berjudul kamar mandi mertua ini bertemakan pernikahan yang diselimuti perselingkuhan. Cerita di awali dari kejadian dimana seseorang bernama Maryani menangkap keganjalan yang terjadi di suatu malam, saat melihat Sari meletakkan sebuah benda di belakang rumah mertua Maryani. Menurut saya penulis berhasil menciptakan awal cerita yang menarik perhatian dan bikin penasaran, di awal sama sekali tidak tertebak bahwa endingnya ternyata Sari adalah selingkuhan dari Marbun, yang tak lain adalah istri dari Maryani.

'…

Inspiring woman: Dymar Mahafa

Image
Dymar Mahafa, nama yang tidak asing lagi bagi kami peserta ODOP Batch 7, pasalnya beliau beberapa kali memberikan materi seputar Fiksi di kelas ODOP. Perempuan kelahiran kediri, dua puluh tujuh tahun yang lalu ini mencintai dunia kepenulisan sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan, di awali dengan menulis blog yang berisi seputar belajar bahasa Jepang.
Beberapa bidang yang geluti diantaranya pernah menjadi tutor Bahasa Inggris, menjadi ilustrator di ngodop.com, membuat sketsa realis wajah dan ilustrasi untuk buku cerita anak, menggeluti dunia kepenulisan dan sekarang ini beliau mengabdi di SMP Negeri di daerah Kediri. Perempuan yang menginspirasi ini sedang memperjuangkan beberapa impian terpendam, yakni menjadi English lecturer, Ilustrator kondang dan atau writerpreneur.
Penggemar musik klasik ini, tergabung dalam beberapa komunitas yang bergerak di bidang kepenulisan yaitu ODOP (One Day One Post) sejak tahun 2015, alasan beliau bergabung dengan komunitas tersebut, karena ingin…

Tersembunyi di Balik Asumsi (5)

Image
Sumber: Google
"Hei, kau ikut turun ke lapangan?" Seseorang menepuk pundak Fairish dari belakang. Ia menolak ajakan teman satu kelasnya itu dengan gelengan dan senyuman.

Demo terjadi hari ini, sesuai dengan kesepakatan kemarin sore, tapi untuk demo yang kesekian ia memilih menolak. Saat kawannya berlalu, ia kemudian bergegas melangkah melewati ruangan demi ruangan, menuju ruangan paling ujung, beberapa temannya sudah menunggu, untuk memulai rapat.

"Teman-teman demo terjadi hari ini, itu artinya waktu kita menuntaskan pekerjaan ini tidak boleh lebih dari dua minggu," ucap Fairish memulai rapat.

"Kita kekurangan dana untuk gerobak, Bang." Seorang anggota rapat menyahut.

"Dari terget, kurang berapa gerobak?" tanya Fairish.

"Dua, Bang."

"Untuk modal mereka, dananya bagaimana? Sudah sesuai target?"

"Untuk yang itu, sudah, Bang." Seseorang yang duduk di pojokan menyahut.

"Baik, untuk dana pembuatan gerobak yang belu…

Tersembunyi di Balik Asumsi (4)

Image
Sumber: Google
Tidak lagi terlihat Fairish yang ceria dan senantiasa menampakkan deretan giginya, sepanjang perjalanan ia terus merenung, memikirkan nasibnya di kemudian hari, jika pabrik itu benar-benar ditutup, maka makan sehari sekali belum tentu bisa, tidak lagi ada kesempatan menempuh pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi, mungkin itu adalah serentetan fase buruk yang akan dialaminya dikemudian hari, yang menyita pikirannya sekarang ini. Bocah itu mulai kesal sendiri, tangannya mengepal sedari tadi.

Sekilas ide tentang: Belajar yang lebih giat, membuatnya sedikit memiliki harapan untuk mengubah apa yang akan terjadi, dengan giat belajar maka ia akan mudah sampai pada titik sukses, misalnya nanti lulus dari perguruan tinggi, ia akan membela orang-orang pabrik dan menolak terang-terangan asumsi ratusan orang itu, dengan begitu semua orang yang bernasib sama sepertinya, akan tetap makan setiap hari dan akan tetap melanjutkan sekolah.

Selepas karung yang dibawa Narto penuh den…

Tersembunyi di Balik Asumsi (3)

Image
Sumber: Google
"Selamat siang saudara-saudara, saya mengabarkan dari tempat produksi air minum kemasan di wilayah A. Di belakang saya, ratusan mahasiswa sedang memprotes perihal jumlah sampah yang menumpuk di pelosok negeri, sampah didominasi botol dan gelas plastik ..."

Suara itu terdengar di seluruh pelosok negeri saat tombol televisi dinyalakan atau pada saat sebuah aplikasi di ponsel menayangkannya. Liburan sekolah kali ini, Fairish mendengar secara langsung suara reporter mengabarkan berita, atau melihat mereka yang tengah bergerombol di depan sebuah tempat yang selama ini disebutnya sebagai pabrik air minum kemasan.

Bocah itu sering membayangkan tentang sebuah tempat yang menakjubkan, mesin yang bergerak sendiri, air yang tertuang tanpa bantuan tangan manusia. Baginya sebuah kebanggaan jika suatu saat bisa berada di dalam  pabrik, melihat benda gagah itu bekerja. Setidaknya seminggu sekali ia memantapkan kembali mimpinya untuk singgah di tempat luar biasa itu, dengan ik…

Tersembunyi di Balik Asumsi (2)

Image
Sumber: Google
Bergegas melepas tas dan menaruh kertas yang ada dalam genggamannya di atas meja. Lupa melepas seragamnya, bocah itu bergegas menuju dapur, mengangkat tudung saji, terbelalak matanya melihat ikan goreng dua biji di atas piring, disebelah piring ada nasi yang uapnya masih mengepul.

"Makan ikan hari ini, Mak?" ucap Fairis sumringah, mak di sampingnya mengangguk mantap.

Nasi di ambil secukupnya dan diletakkan di atas piring, hampir saja tangan itu mengambil satu ikan, pikirannya mendadak terfikirkan tentang jumlah ikan, jika jumlahnya dua, sementara penghuni rumah tiga orang, itu artinya akan ada satu penghuni rumah yang tidak makan ikan. Melihat Fairish ragu mengambil ikan, mak bertanya,

"Kenapa Fairish?"

"Mak sudah makan?" tanya Fairish.

"Sudah," jawab mak singkat, Fairish tahu jika kali ini mak berbohong, bahkan nasi yang masih mengepul itu belum terjamah tangan sama sekali, tapi mak mengaku sudah makan.

"Fairish ambil ikann…

Tersembunyi di Balik Asumsi (1)

Image
Sumber: Google
Bocah lelaki berbaju putih kecokelatan berjalan gontai melewati jalan setapak. Baju itu adalah hadiah dari bapaknya yang pulang bekerja tempo hari, katanya diberi seseorang yang tidak dikenal. Kala itu wajahnya sumringah menerima bingkisan seragam sekolah, biarpun tidak baru, pakaian itu lebih dari cukup menyelamatkannya dari gigitan semut dan masuk angin, baju lamanya yang bolong sana-sini membuatnya sering bentol-bentol saat melewati pohon jambu di dekat sekolah dan sesekali membuatnya masuk angin saat musim hujan tiba.

Dengan membawa lembaran hasil ujian, hatinya terus berdoa, semoga siang ini mak punya uang untuk memasak dan menanak nasi, karena ujian tadi membuatnya berpikir ekstra keras dan secara tidak langsung membuat cacing-cacing diperutnya meronta.

"Assalamu'alaikum," Sampai di depan pintu bocah itu melepas sepatunya dan mengucapkan salam.

Mak dari dalam menjawab salam dan tersenyum, jagoannya pulang menimba ilmu. Bagi Mariati sekolah adalah sa…