Posts

Showing posts with the label Prosa: Barisan Kata-kata

Sebelum Terlanjur Jauh

Selamat terjebak dalam kotakku, sebuah tempat yang rentan sakit hati dan bosan, kau akan lebih banyak mendengarkanku bercerita tentang rinduku pada Ibu, atau pada kenangan-kenangan terdahulu, yang bahkan sampai perjumpaan kita, aku masih meletakkan kenangan itu sebagai satu-satunya hal yang menyita pikiranku. Mungkin suatu ketika kau akan bosan, karena itu-itu lagi yang menjadi bahasan dalam setiap kali chat atau perjumpaan. Kaupun akan bingung mengatakan kalimat apa lagi selain 'sabar dan terus doakan Ibu', padahal aku tidak ingin memintamu berpikir lebih soal ini, bahkan ratusan kali kau ucapkan kalimat yang sama tidak jadi masalah buatku, lebih penting dari itu adalah kesediaanmu mendengarkan apa-apa yang kucurahkan. Aku tidak ingin egois dengan semua ini, maka sebelum semuanya terjadi, akan kuberikan pilihan, mau tetap melanjutkan apa yang sudah jadi pilihanmu dengan resiko itu, atau berhenti sebelum suatu saat kau menjadi asing dan mendadak suka marah-marah karena hal...

Tak Merdeka

Tumbuh dewasa dan mengurung diri lama-lama di kamar karena hati yang baru saja dipatahkan adalah sebuah ketidak merdekaan. Padahal kau bisa keluar kamar dan menganggap ini sebuah jalan baru yang tidak mengekangmu. Ponselku mendadak berdering beberapa kali, padahal sebelumnya panggilan darimu tidak pernah mendarat. Kau sampaikan kabar duka, katamu bahagia baru saja mati terbawa langkah kakinya yang menjauh pergi. Kali ini kau masih dianggap penyebab hancurnya hubungan, padahal kau hanya ingin mempertahankan hubungan yang hampir saja sampai pelamilan. Sayangnya, nyaman yang terlanjur beralih akan menyita tenaga dan sabarmu. Maka membiarkan ia pergi, harusnya membuatmu paham, bahwa Tuhan tidak rela kau bersama dia yang gampang luluh dengan rayuan orang lain. Genggam tanganku, mari kita bernostalgia dengan masa kecil kita dulu, tentang: belajar sepeda, jatuh dan terluka adalah sebuah hal biasa demi bisa lancar bersepeda, sebebas itu berimajinasi tentang boneka barbie, atau kita main petak...

Resiko Tertular

Kau masih ingat tentang ungkapan kita waktu itu, dijalan x, tepatnya di depan gedung DPRD yang sekarang menjadi tempatmu mengais rupiah. 'Jangan mau hak kita dirampas, merdeka' begitu kira-kira ucapanmu hampir bersamaan denganku. Seminggu setelah itu, sebelum kau memutuskan sebuah pilihan untuk bergabung dengan mereka, bukankah kita sempat terlibat perdebatan, kau dengan upayamu meyakinkanku jika tidak akan melakukan hal yang melenceng, katamu kau ada disana demi menyuarakan hak-hak kami yang selama ini tidak pernah diperdulikan. Sementara aku berusaha untuk menahanmu, karena bagiku jika sudah terjun ke dalamnya, akan ada resiko 'ketularan', lebih baik tetap ada disini, berjalan bersamaku menyuarakan apa-apa yang menjadi hak rakyat. Tapi katamu: Kau percaya padaku lah, aku tidak akan melenceng. Meski dengan hati berat kusetujui apa yang ingin kau lakukan. Seminggu dua minggu duduk bersama para anggota dewan, kau memang membuktikan ucapanmu, kau masih sering dat...

Dirgahayu

Adakah yang lebih membahagiakan dari pada menepi dari semua hal yang sering membingungkan? Pada dunia maya yang membuatmu lebih lama menatap layar dan menjelajahi isinya tanpa lagi menengok apa-apa yang terjadi di dunia nyata dan Pada hal-hal didunia nyata yang lebih sering menuntutmu untuk tidak seirama dengan kata hati, apalagi mengataimu ini itu, tanpa tau sejatinya yang sedang kau alami. Aku melakukannya dihari ini, sesaat mengasingkan diri, di enam belas september, kala ucapan selamat ulang tahun hadir satu persatu dilayar handphone. Kucapkan terima kasih, tapi pentingkah sebuah ucapan di kepala dua ini? Tidak juga. Kala kakiku menginjak satu kotak, dan terbuka lebar sebuah pembelajaran tentang: Tidak lagi begitu penting sebuah ucapan, karena yang lebih penting dari itu adalah duduk di depan Ibu, mencium tangannya dan berterima kasih pada pelukan ternyaman, doa-doa yang menembus langit, sabar, kuat, segala sikap baik yang cukup kupahami dari tindakan yang pernah beliau lakuk...

Kepada: Ibu

Kepada: Ibu. Udah berbulan-bulan aja, Bu. Rasanya cepet. Ibarat berjalan, perjalanan yang kau tempuh terlampau panjang. Tapi sejatinya kita tidak sedang berjauhan, aku yakin itu, mengutip kalimat seorang sastrawan, bahwa yang fana adalah waktu, kita abadi. Meski kutahu bukan lagi tatap mata yang bisa kita lakukan, caraku terhubung denganmu hanya melalui doa. Kapan datang dalam mimpi? Kutunggu. Bu, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan, seperti yang lalu-lalu, tentang banyak ceritaku yang tidak pernah terlewatkan olehmu. Satu pertanyaan yang ingin kutanyakan adalah tentang: manusia-manusia yang datang ke rumah dan sebelumnya tidak pernah kukenali, namun menyatakan berkabung dan menangisi kepergianmu. Ah, Bu aku sedih sekaligus senang, hal baik itu coba kucerna dan kuilhami. Semenjak takdir memutuskan menggerakkan langkahmu ketempat yang asing, sampai detik ini, tidurku tidak pernah nyenyak, seandainya bisa kembali ada dipagi itu, aku ingin berubah menjadi manusia super yang mam...

Kenalkan, namaku: Altha

Seseorang yang tidak beruntung, berada di suatu tempat paling terkutuk di muka bumi, tempat yang mengalir sumpah-serapah istri-istri sah. Banyak hati yang kupatahkan saat harta berharga miliknya beralih jadi milikku sementara waktu. Tapi, semua ini diluar kendaliku. Mendung yang singgah didiriku bertahun-tahun lamanya mendadak berganti terang, 'Hitam' hadir membawa harapan, pipiku yang basah diusapnya pelan-pelan, katanya 'Tidak semua yang terlihat buruk itu benar-benar buruk' Namanya: Hitam, seseorang dibalik sampul hitam sebuah novel yang masih terbungkus plastik, yang waktu lalu kutemukan di stasiun. Entah siapa yang meninggalkannya atau mungkin ketinggalan, maafkan aku yang dengan lancang dan tidak tanggung jawab membawanya pulang dan sungguh hidupku berubah, lebih tepatnya cara pikirku. Semesta selalu punya cara untuk menemukan dua anak manusia, cara yang susah dinalar tapi mampu terjadi, dari sebuah kecelakaan kecil, aku menemukan 'Hitam' mengulurka...

Menjadi Manusia

Langkahkan kaki mendekat lagi, aku tidak akan menikammu dengan kata-kata biadab, karena aku bagian darimu, malaikat atid lebih sering menjalankan tugasnya, atas diriku. Adakah yang harus dihakimi dari Alkohol yang kau konsumsi tempo hari, kemudian membuatmu merasa tenang, melayang dan lupa semua hal-hal berat yang akhir-akhir ini sering membuatmu berkeinginan untuk membunuh dirimu sendiri? Dengarkan baik-baik kalimatku: Aku justru merasakan kekeliruan ada pada manusia-manusia yang menghakimimu. Kau punya hak untuk melakukannya, benar atau salahnya yang kau kerjakan, tugas kami yang ada disekelilingmu adalah mengingatkan. Aku tau, sekeras apapun kujelaskan tentang, dampak buruk yang akan terjadi jika kau terus-terusan mengkonsumsinya. Tidak akan membuatmu luluh dan menghentikannya begitu saja. Masih mengamatimu, yang meneguk kembali benda itu. Teguklah dan tenanglah, mungkin bukan lagi kalimat yang bisa kau terima kala ego lebih memenangkan diri, tidak masalah, aku masih meneman...