Yang Terasingkan: Menuntaskan Kewajiban
Pagi itu aku datang kembali memberanikan diri membawa selembar surat itu, awalnya memang sudah kuduga lelaki itu akan bentak-bentak di depanku, beberapa kali ia hampir memukulku dan kubiarkan hal itu, namun wanita itu rupanya masih sedikit membelaku dengan beberapa kali pula mencegah tangan itu memukulku. “Mau apa lagi kau datang kemari?” ucap lelaki itu. “Untuk terakhir kali saya datang kemari, mau meluruskan sesuatu, demi ketenangan Ramsha, mohon untuk diijinkan menyampaikan sesuatu,” jawabku. Duduklah kami di ruang tamu, kali ini Ibunya tidak memainkan handphone seperti tempo hari, memandangku lekat-lekat. “Mohon maaf sebelumnya, Pak, Bu. Mengingat semakin kesini penderitaan Ramsha terasa semakin menjadi, saya hendak memberi tahu, apa yang mungkin belum Bapak Ibu tahu, ada sebab yang membuat Ramsha melakukan tindakan-tindakan yang selama ini dirasa mengancam banyak nyawa dengan pisau lipatnya,” ucapku, mereka menyimak dengan seksama. “Semua penyebab...