Posts

Showing posts with the label Part Novel Yang Terasingkan

Yang Terasingkan: Menuntaskan Kewajiban

Pagi itu aku datang kembali memberanikan diri membawa selembar surat itu, awalnya memang sudah kuduga lelaki itu akan bentak-bentak di depanku, beberapa kali ia hampir memukulku dan kubiarkan hal itu, namun wanita itu rupanya masih sedikit membelaku dengan beberapa kali pula mencegah tangan itu memukulku. “Mau apa lagi kau datang kemari?” ucap lelaki itu.   “Untuk terakhir kali saya datang kemari, mau meluruskan sesuatu, demi ketenangan Ramsha, mohon untuk diijinkan menyampaikan sesuatu,” jawabku. Duduklah kami di ruang tamu, kali ini Ibunya tidak memainkan handphone seperti tempo hari, memandangku lekat-lekat. “Mohon maaf sebelumnya, Pak, Bu. Mengingat semakin kesini penderitaan Ramsha terasa semakin menjadi, saya hendak memberi tahu, apa yang mungkin belum Bapak Ibu tahu, ada sebab yang membuat Ramsha melakukan tindakan-tindakan yang selama ini dirasa mengancam banyak nyawa dengan pisau lipatnya,” ucapku, mereka menyimak dengan seksama. “Semua penyebab...

Yang Terasingkan: Mengoreksi

Kami berhenti disebuah warung makan, mengingat makanan yang tersaji di kamar belum terjamah olehnya, maka dengan sok tahu menduga perutnya lapar, benar dugaanku, dengan lahap ia memakan makanan yang disajikan. “Sejak kapan dikurung?” tanyaku. “Setelah kau pulang aku dihakimi, lelaki itu menjelaskan pada Ibu jika penyebab luka itu adalah aku, dia tidak mengakui tentang alasanku memperlakukannya begitu. Seolah semua titik salah memang ada padaku,” jelasnya. “Kau kenapa tiba-tiba datang ke rumahku?” ia bertanya, kemudian melanjutkan memakan makanan yang masih tersisa. “Hendak memintamu pada Bapak Ibumu,” jawabku singkat, membuatnya tersedak. “Maksudmu?” “Melamarmu.” “Hah. Seriusan? Ini nggak bercanda?” ia memastikan kebenarannya dan aku mengangguk mantap. Setelahnya tidak ada kelanjutan membahas tentang hal itu, ia mendadak berubah, sesekali menatapku dan merenung, lebih banyak diam. Selepas makan, kami berjalan menyusuri jalan yang sama seperti tempo hari...

Yang Terasingkan: Membekas

Selepas menyodorkan gadged dan ia mulai membaca, sesekali ia menunjukkan kepadaku bagian yang susah ia lafalkan, aku membacanya dan ia menirukan apa yang kusampaikan. “Sha.” Sapaku, membuatnya menghentikan aktifitasnya sesaat dan menoleh ke arahku. “Hm,” jawabnya. “Nggak semua hal harus diselesaikan dengan pisau lipat itu, Sha.” “Dalam keadaan yang seperti tadi, pisau itu harusnya menembus jantung si keparat itu, biar mati sekalian,” jawabnya dengan mata melotot, jawaban yang tegas. “Kalau dia nggak mati, hal itu akan terulangi lagi.” Belum juga menjawab, ia melanjutkan perkataannya. “Semua orang akan ada pada fase buruk sebelum baik, Sha. Siapa tahu dia khilaf." “Gue nggak perduli dia khilaf atau apalah, dia mungkin bisa jadi orang baik setelah itu, tapi bagaimana dengan si wanita yang menderita seumur hidupnya. Lo nggak pernah jadi korban, makanya lo dengan entengnya bisa ngomong kayak gitu.” Kali ini mukanya merah padam, ada amarah yang terlihat....

Yang Terasingkan: Ramsha (Perempuan Istimewa)

Ia mengangguk, tanpa basa-basi lagi ia berdiri dan melangkahkan kaki menjauh dariku yang baru saja duduk di sebelahnya. “Sha, tunggu!” Kataku mencoba menahan langkahnya. Jalanan yang riuh, membuatnya terus berjalan tanpa mendengar kalimatku yang berusaha menahannya, hal ini kulakukan demi bisa mengenalnya, satu alasan yang membuatku kukuh ingin berkenalan: karena aku seperti menemukan diriku yang lain ada pada dirinya, manusia yang mau tidak mau harus menerima keadaan yang mencekam, bahkan sebelum kuketahui banyak perkara yang menimpanya selama ini. Namun aku yakin jika wajah datar dengan kelakuan yang hampir saja melenyapkan banyak nyawa, itu ada bukan karena keinginannya, tapi atas sebuah sebab dan alasan yang menyertai. Begini, aku jadi menganggap kita seirama perihal dunia yang seperti mengasingkan, dianggapnya kita manusia yang paling hina di muka bumi, tanpa mau tahu apa yang sejatinya kita alami. Dengan berusaha ingin mengenalnya, sebenarnya hal itu membuatnya terganggu, ...

Yang Terasingkan: Tentang Seorang Gadis

Tepat di depan sebuah rumah yang kemarin dimasuki dua wanita yang kubuntuti dari penjara, aku menunjuk. “Kau tau ini rumah siapa?” tanyaku. “Pak Doni, sama Ibu Laras. Kau tau, ada banyak tanda tanya di rumah itu,” jawabnya. “Tanda tanya?” “Kadang sering kudengar anaknya berteriak tengah malam. Tidak tahu apa sebabnya. warga sini pernah bilang jika gadis itu rada tidak waras, beberapa kali hampir menewaskan orang, Bapaknya hampir jadi korban.” “Disitu, di kamar atas, gadis itu sering terlihat murung. Aku mengamatinya dari kamarku.” Lanjutnya sembari menunjuk kamar yang dimaksud. Benar saja rumahnya berhadapan dengan rumah gadis itu, ia juga bercerita jika tidak pernah menyaksikan gadis itu tersenyum, bahkan justru ikut-ikutan parno mendekati gadis itu, rumor yang beredar mengatakan jika gadis itu beberapa kali menyerang laki-laki, diceritakan pula jika dalam satu minggu ini dua kali ia berurusan dengan aparat kepolisian, berhubung tidak ada korban dan Polisi menyadari jika ...

Yang Terasingkan: Perjumpaan Penuh Pembelajaran

Yang Terasingkan: Perjumpaan Penuh Pembelajaran Ruangan yang berisi puluhan orang berseragam, dengan masing-masing sel penjara yang berisi lima sampai enam orang, sebagian mereka mengutuk keadaan, sebagian lagi memilih lebih khusyuk menyapa Tuhan, ruangan pengap itu membuat masing-masing kepala sadar bahwa apa yang selama ini mereka lakukan adalah sebuah kesalahan. Aku terjebak berada pada satu tempat yang sama dengan mereka, pertama kali menginjakkan kaki di sini, kusangka semua yang terjadi adalah mimpi dan aku harus bangun untuk membuyarkan segalanya, namun kakiku menginjakkan kaki ditempat yang paling tidak ingin kusinggahi di dunia, awalnya aku seperti mereka yang mengutuk keadaan, kukatakan dengan lantang bahwa kejadian itu seolah menjebakku, tapi segalanya terlanjur diputar balikkan aku bisa apa selain mencoba memahami semua ini, dengan berusaha baik-baik saja, dan aku sampai pada fase dimana mendadak siang malam ingat Tuhan. “Segala yang terjadi di muka bumi sudah diatur...

Yang Terasingkan: Khilaf

Seseorang dengan pakaian sarung dan baju koko berdiri di samping ranjangku, tanpa memanggil dan membangunkan, ia hanya menatapku lamat-lamat, yang tengah berusaha menanggalkan kantuk yang tersisa. “Semalam kamu minum lagi?” suaranya sedikit membuatku terjingkat. Seraya bangun, pikiranku mencoba mengingat hal apa yang terjadi semalam. Terakhir sebelum ‘terbang’ menyergapku, aku hanya mengingat jika kawan-kawan menyodorkan benda memabukkan itu padaku. Pikiranku masih kanak-kanak, tidak ada jalan lain yang harus kutempuh, kecuali kembali mengkonsumsi butiran obat dengan jumlah yang cukup banyak. Benda yang membuatku lupa segala permasalahan. Semalam sebenarnya aku berniat untuk tidak pulang, seperti malam-malam sebelumnya, aku takut kembali mengecewakan Paman. Kepada anggukan kepalaku yang menyatakan ‘siap’ berubah, ternyata kuingkari sendiri. Rasa rindu yang menyergapku semalam, kalah dengan perasaan kecewa yang semakin hari justru semakin menambah volumenya, sebagian dari tub...