Posts

Kami Perempuan

Berikan penjelasan tentang, siapakah kami? Katamu: kami perempuan. Dengan bualanmu, merayu. Bersumpah serapah menyayangi, sehidup semati. Namun kau hempas, dan berakhir mandi air mata. Siapakah kami? kami perempuan, sebangsa dengan orang yang mengandungmu. Tapi, kau incar kami demi nafsu tak manusiawi. Kami perempuan, menjadi korban tapi disudutkan, lebih parah lagi dipenjarakan, demi bersuara pada yang merampas hak kami. Beri penjelasan, pada siapa kelak anak-anakmu, bisa melihat dunia, disusui dan dibesarkan? Beri penjelasan, Seimbangkah dengan pikiran kotor yang beranak pinak dikepalamu? Kami perempuan, Yang sering kau incar tubuhnya, kau nikmati tanpa dosa, dan diabaikan begitu saja. Selanjutnya kami yang justru jadi pelakunya. Jelaskan, dimana titik adilnya? Lamongan, 11 September 2019 #ODOPDay3

Perjumpaan Dengan Beringin

Kelak akhirnya kutahu, bahwa banyak beringin di sekelilingku. Pernah aku suudon pada keadaan yang tidak baik-baik saja, pada apapun yang melatih otakku untuk bekerja siang, sore tanpa jeda, belum lagi kala banyak mata sampai di alam mimpi, aku masih saja mengutuk keadaan, kala malam tidak mengijinkanku untuk sedetik saja lepas dari hal-hal berat yang bejubel di kepala. "Aku trauma untuk menjalin hubungan kembali dengan seseorang, dijatuhkan dengan cara seperti ini sungguh menyakitkan," suatu waktu seorang yang kelak kunamai beringin mengatakan itu. "Ketika orang tuamu bisa menjadi manusia yang paling kau sayangi dan kau bangga-banggakan sebagai orang tua terbaik versimu, aku justru bingung dengan rasa apa harus kutunjukkan hubunganku dengan orang tuaku? yang kau namai rumah, adalah gedung tua menyeramkan versiku," seseorang lain yang kelak kunamai dengan nama beringin pula, mengatakannya. "Terus berbuat baik, sebisaku, kuusahakan semaksimal mungkin. Tapi...

Kursi Reot di Beranda Rumah

Aku masih mematung, tepat sejengkal dari pagar kayu yang warnanya mulai pudar, warna yang sama seperti puluhan tahun lalu, biru, warna kesukaanku dan kesukaan Bayu, putra sulung Pak dhe Ratmo. Dipekarangan itu, dulu banyak permainan kami mainkan, sepak bola, lompat tali, jika sedang musim pertandingan bulu tangkis di televisi, kami juga memainkannya. Masih teringat betul, bagaimana sayangnya Pak dhe Ratmo dengan kami, keringat yang mengucur dibayar dengan es teh. "Istirahat dulu, makan singkong dan minum es ini. Nanti lanjut main lagi." Kalimatnya sontak membuat kami menghentikan permainan dan menuju meja kayu di beranda rumah. Dari dalam muncul Bu dhe Ratih, membawa sepiring pisang goreng yang masih panas, kami berebut memilih jajanan yang paling besar, hal itu membuat tawa mereka pecah. Istirahat kami menikmati jajanan juga ditemani dengan cerita-cerita Pak dhe Ratmo, tentang pewayangan, kisah rasul atau bahkan kisah kancil dan kawan-kawannya. Lima belas tahun bers...