Altha: Pilihan Berat
Sumber gambar: Google Mengakhiri tangisnya, mama melepas pelukanku begitu saja, aku gelagapan menyaksikan ia bangkit dan ingin bergerak menjauhi ruang tamu, namun suaraku menahannya, "Mama, ijinkan Altha bicara dulu." Ia menoleh beberapa saat, mengamatiku yang masih sesenggukan, mengurungkan niat dan kembali duduk di sebelahku. Aku sedang ingin menawarkan hal-hal mustahil yang bahkan sebelum kuucapkan sudah kutebak jawaban mama atas ideku "Aku siap bekerja dari pagi hingga petang, Ma. Asal jangan di tempat itu," ucapku seraya memohon, mencoba meminta mama untuk berbaik hati mengurungkan niatnya atasku, tapi, bukankah luka bapak juga bukan suatu kejadian yang bisa diurungkan? "Kalaupun kamu bekerja pagi sampai malam, gajimu belum tentu cukup untuk membiayai pengobatan Bapak. Belum lagi gaji yang dibayar di akhir bulan, sementara Bapakmu meregang nyawa. Otakku tidak bisa lagi mencari solusi, selain apa yang sudah kusampaikan padamu." Mama ...