Posts

Altha: Pilihan Berat

Image
Sumber gambar: Google Mengakhiri tangisnya, mama melepas pelukanku begitu saja, aku gelagapan menyaksikan ia bangkit dan ingin bergerak menjauhi ruang tamu, namun suaraku menahannya, "Mama, ijinkan Altha bicara dulu." Ia menoleh beberapa saat, mengamatiku yang masih sesenggukan, mengurungkan niat dan kembali duduk di sebelahku. Aku sedang ingin menawarkan hal-hal mustahil yang bahkan sebelum kuucapkan sudah kutebak jawaban mama atas ideku "Aku siap bekerja dari pagi hingga petang, Ma. Asal jangan di tempat itu," ucapku seraya memohon, mencoba meminta mama untuk berbaik hati mengurungkan niatnya atasku, tapi, bukankah luka bapak juga bukan suatu kejadian yang bisa diurungkan? "Kalaupun kamu bekerja pagi sampai malam, gajimu belum tentu cukup untuk membiayai pengobatan Bapak. Belum lagi gaji yang dibayar di akhir bulan, sementara Bapakmu meregang nyawa. Otakku tidak bisa lagi mencari solusi, selain apa yang sudah kusampaikan padamu." Mama ...

Altha: Diluar Nalar

Image
Sumber gambar: Google Suasana di ruang tamu terlihat sepi saat aku keluar kamar dan berusaha menghilangkan bekas air mata, mencoba terlihat baik-baik saja. Saat aku melintas di depan kamar nenek, terlihat beliau yang kusyu dalam salat malamnya, sementara mama di atas ranjang sudah tertidur lelap, mereka tidak melihat aku yang melintas untuk pura-pura ke kamar mandi, padahal ingin menyaksikan keadaan di luar kamar setelah terdengar ucapan yang menyakitkan. Aku masuk ke kamar mandi hanya pura-pura mencuci tangan dan melintas kembali di depan kamar nenek, otakku berpikir lebih jauh lagi setelah sebuah pengakuan gamblangnya beberapa menit yang lalu, mereka menyebut dirinya sebagai pekerja malam, tapi melihat nenek yang menangis di atas sajadahnya malam ini, rasa-rasanya seperti sebuah hal yang mustahil, mungkin karena image seorang pekerja malam bagi kebanyakan orang adalah buruk, padahal sebuah kenyataan yang tidak pernah mereka ketahui, selalu ada kemungkinan jika merekalah ya...

Altha: Apakah lelucon?

Image
Sumber gambar: Google Kali pertama tidur di rumah mama membuat mataku susah terpejam, di sebelahku Galang sudah sampai di alam mimpi, tidak butuh waktu lama untuk membuatnya tertidur, saat kepala bertemu bantal, maka saat itu pula terdengar suara dengkuran. Di sebelahnya aku hanya menatap wajah polosnya, kemudian menyapu pandangan, mengamati tembok kamar yang kosong tanpa gambar atau foto, di sebelah kiri ranjang tempatku tertidur sebuah lemari yang tidak terlalu besar berdiri gagah, di depan lemari itu ada dua koper dan dua ransel yang berisi pakaian dan segala peralatan yang kami bawa, yang belum sempat kami masukkan dalam lemari. Wajah bapak tiba-tiba terlintas dalam pandangku, manusia hebat itu sedang apa sekarang? Kenapa sudah lama tidak menemui kami? Bahkan saat rumah dijual dan kami harus tinggal di tempat ini, ia masih tidak juga datang untuk memastikan keadaan putra-putrinya. Aku tahu, tidak wajar sebenarnya, setelah perilaku buruk yang terdengar oleh telingaku, kem...

Altha: Target

Otak dipaksa untuk berpikir keras lagi akhir-akhir ini, harusnya ia sudah katam menghadapi masalah besar yang menghadangnya dengan menikahi lelaki itu, tapi nahas apa yang dipikirkannya sebelum menikah ternyata tidak sebanding dengan kenyataan yang terjadi, harusnya menikahi lelaki kaya cukup membuatnya duduk di rumah dan menikmati hidup, atau bahkan lebih mudah membawa Ibunya ke rumah sakit untuk berobat, tapi kenyataanya lelaki kaya yang dinikahinya adalah lelaki yang mungkin saja memberinya kebahagiaan dalam wujud materi, meskipun sesaat, bukan wujud kasih sayang.   Ia sempat berfikir bahwa pernikahannya dengan lelaki itu tidak lebih karena cinta, tapi demi hidup layak dan kesehatan Ibunya, tapi satu rumah dan tanpa cinta adalah satu hal yang pelan-pelan menyakitinya, apalagi hadirnya wanita lain yang mengisi hidup suaminya di luaran sana. Benar kata beberapa kawannya yang menikah karena perjodohan, awal mula menikah mungkin tidak ada cinta, dan mencoba menjalani hari-...

Altha: Rumah Mama

Gerimis yang turun beriring dengan langkah mama yang mendekat, di sebelahnya seorang lelaki paruh baya berbincang-bincang dengan Mama. Galang sudah siap menggendong tas yang berisi pakaiannya dan menunjuk satu koper yang berisi buku-buku pelajaran sekolah, memintaku untuk membawanya. Aku sudah siap dengan semua pakaian dan peralatanku yang sudah kumasukkan dalam satu tas besar. Selepas berbincang dan bersalaman dengan lelaki itu, mama menggandeng tangan Galang dan berpamitan, aku membuntut di belakangnya. Taxi parkir di depan rumah, Mama membuka pintunya dan mempersilakan kami masuk lebih dulu. Taxi meluncur melewati perjalanan yang lenggang. Gerimis masih turun dan aku coba menerka-nerka ke mana tujuan kami, aku tau tujuannya adalah rumah Mama, tapi rumah mama di daerah mana? Setelah melewati jalan besar, Taxi berbelok ke sebuah gang kecil, masuk beberapa meter, mama meminta Taxi berhenti. Barang-barang dari bagasi di keluarkan dan kami turun. Tanpa ekspresi mama menyeret kop...

Main ke Pantai Kutang

Image
Sumber gambar: Google Sebagai anak rumahan, kalau diminta bercerita tentang tempat wisata yang pernah dikunjungi adalah suatu hal yang rada alot untuk kukerjakan. Bahkan ketika teman-teman menceritakan banyak tempat-tempat keren yang dikunjungi, aku mentok bercerita hanya seputaran daerahku saja. Daerah pesisir, yang mayoritas wisatanya berupa pantai. Kali ini aku akan bercerita tentang salah satu wisata pantai yang terakhir kukunjungi beberapa bulan yang lalu. Mohon maaf karena dalam cerita kali ini, akan kusebutkan satu kata yang   terkesan mengarah ke kata jorok, tapi memang demikian adanya, karena nama pantai ini diambil dari nama salah satu pakaian dalam wanita: Pantai Kutang. Kutang sendiri dalam Bahasa Indonesia berararti 'BH'. Entah bagaimana filosofinya sampai pantai ini dinamai Pantai Kutang, dulu awal mula adanya pantai ini, di bagian selatan jembatan yang berdiri di tengah lautan, ada banyak BH yang bertengger di batu karang. Dugaanku karena...

Altha: Siapa?

Setelah Mama keluar rumah dan kembali menutup pintu, aku masih mencerna kalimatnya yang baru saja disampaikan. Bapak yang tidak terlihat batang hidungnya akhir-akhir ini, terkesan banyak rahasia yang coba disembunyikan mereka dariku. Mungkin strategi Mama demi mengusai harta Bapak. Tapi, sejujurnya selama ia menetap di rumah ini, aku menepis semua cerita-cerita seram tentang Ibu tiri, aku masih melakukan segala aktifitas tanpa terganggu oleh perintah Mama. Bahkan semua pekerjaan rumah dikerjakannya seorang diri, mengepel, menyapu, bahkan memasak, meskipun masakannya tidak pernah terjamah tanganku dan Galang. Kupatenkan di kepalaku, bahwa tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan Ibu di rumah ini, aku juga malas memanggilnya Mama, apalagi Galang, bocah itu justru lebih dingin dari aku, bahkan semua ucapan Mama tidak pernah di gubris, ia beranggapan bahwa Mama adalah pembantu yang sengaja di datangkan Bapak, untuk bersih-bersih di rumah ini. Tidak habis pikir, kenapa Galang yan...