Posts

Tersembunyi di Balik Asumsi (2)

Image
Sumber: Google Bergegas melepas tas dan menaruh kertas yang ada dalam genggamannya di atas meja. Lupa melepas seragamnya, bocah itu bergegas menuju dapur, mengangkat tudung saji, terbelalak matanya melihat ikan goreng dua biji di atas piring, disebelah piring ada nasi yang uapnya masih mengepul. "Makan ikan hari ini, Mak?" ucap Fairis sumringah, mak di sampingnya mengangguk mantap. Nasi di ambil secukupnya dan diletakkan di atas piring, hampir saja tangan itu mengambil satu ikan, pikirannya mendadak terfikirkan tentang jumlah ikan, jika jumlahnya dua, sementara penghuni rumah tiga orang, itu artinya akan ada satu penghuni rumah yang tidak makan ikan. Melihat Fairish ragu mengambil ikan, mak bertanya, "Kenapa Fairish?" "Mak sudah makan?" tanya Fairish. "Sudah," jawab mak singkat, Fairish tahu jika kali ini mak berbohong, bahkan nasi yang masih mengepul itu belum terjamah tangan sama sekali, tapi mak mengaku sudah makan. "Fai...

Tersembunyi di Balik Asumsi (1)

Image
Sumber: Google Bocah lelaki berbaju putih kecokelatan berjalan gontai melewati jalan setapak. Baju itu adalah hadiah dari bapaknya yang pulang bekerja tempo hari, katanya diberi seseorang yang tidak dikenal. Kala itu wajahnya sumringah menerima bingkisan seragam sekolah, biarpun tidak baru, pakaian itu lebih dari cukup menyelamatkannya dari gigitan semut dan masuk angin, baju lamanya yang bolong sana-sini membuatnya sering bentol-bentol saat melewati pohon jambu di dekat sekolah dan sesekali membuatnya masuk angin saat musim hujan tiba. Dengan membawa lembaran hasil ujian, hatinya terus berdoa, semoga siang ini mak punya uang untuk memasak dan menanak nasi, karena ujian tadi membuatnya berpikir ekstra keras dan secara tidak langsung membuat cacing-cacing diperutnya meronta. "Assalamu'alaikum," Sampai di depan pintu bocah itu melepas sepatunya dan mengucapkan salam. Mak dari dalam menjawab salam dan tersenyum, jagoannya pulang menimba ilmu. Bagi Mariati sekolah...

Pada Serentetan Keinginan

Image
Sumber: Google Dari sekian hari saat aku menyadari bahwa pembunuhan mengintaiku setiap waktu, sejak saat itu pula aku lebih berhati-hati menggerakkan ekorku, mataku lebih jeli lagi melihat keadaan, waspada jika tiba-tiba ada bayangan hitam besar di permukaan perairan, seperti kata kawanku, yang nyawanya hampir melayang, ia bahkan mempraktekkan bagaimana keadaan napasnya yang terengap-engap saat berada dalam tempat gersang yang membuat ekor dan siripnya susah digerakkan, yang ia tahu disekelilingnya banyak sosok-sosok berbadan tegap, kutahu jika sosok-sosok itu disebut: Manusia. Semasa kecil saat berkumpul bersama di sekitar terumbu karang, ibu pernah bilang, bahwa nasib kita bergantung pada sosok-sosok di atas sana, di daratan, mereka adalah manusia yang setiap hari datang ke laut untuk mencari kami dan dengan benda yang mereka bawa, akan menyeret kami ke atas sana untuk dijadikan santapan. Saat aku mendengar cerita Tuna, saat itu juga aku mengingat apa yang pernah ibu sampai...

Altha: Namanya Hitam

Image
   Sumber: Google Sebuah buku tergeletak tepat di sebelahku, saat aku mulai duduk dan kembali mengatur nafasku yang tak karuan, jarak antara tempat kos dan stasiun lumayan jauh, ditambah tempat dudukku yang sedikit bersembunyi di antara kerumunan, lelaki itu tidak akan mungkin menemuiku, untuk urusan mama biar kupikir nanti, harus kunormalkan kerja otak dan hatiku terlebih dahulu, setelah keadaan mencekam beberapa menit yang lalu, sebuah kejadian yang tidak akan kulupakan seumur hidupku, semua detail kejadian membekas di ingatanku. Memegang buku itu, aku coba mengamati sekitar mungkin diantara mereka ada yang merasa bukunya terjatuh atau tidak sengaja tertinggal, namun semua orang di sekelilingku sibuk dengan dirinya sendiri, sebagian mengobrol, sebagian yang lain menyandarkan tubuhnya pada kursi tunggu, wajah-wajah lelah terlihat di sana, mungkin pekerjaan seharian tidak memberinya kesempatan untuk beristirahat.   Dengan lancang aku memegang bu...

Altha: Melarikan Diri

Image
Sumber gambar: Google Motor berhenti di depan salah satu kamar kos, lelaki itu turun dan menatapku cukup lama, korneanya menelusuri tubuhku dari ujung kepala sampai kaki. "Aneh." Desisnya pelan, mengalihkan pandangan, merogoh kantong mencari sesuatu, wajahnya nampak terlihat lega setelah menggenggamnya: kunci. Digenggamnya kunci itu, dan melangkah menuju pintu. Jantungku mulai berdetak tidak normal, keringat mulai membasahi wajah dan telapak tangan, dalam hitungan menit aku akan benar-benar hancur dan hina. Masih ada hitungan menit sebelum benar-benar terjadi, aku bisa lari ke sudut manapun, keadaan juga mendukung, sekitaran kosan tidak ada satu orangpun, hanya kami berdua. Tapi, bapak terkapar tak berdaya dan membutuhkan aku. Ia tersenyum sesaat ke arahku dan memberi kode berupa anggukan kepala, memintaku untuk masuk ruangan. Seluruh tubuh yang bergetar kupaksa masuk, diatas segala cemas yang berkecamuk, terlintas satu hal yang sedikit membuatku tenang, walau...

Altha: Pilihan Berat

Image
Sumber gambar: Google Mengakhiri tangisnya, mama melepas pelukanku begitu saja, aku gelagapan menyaksikan ia bangkit dan ingin bergerak menjauhi ruang tamu, namun suaraku menahannya, "Mama, ijinkan Altha bicara dulu." Ia menoleh beberapa saat, mengamatiku yang masih sesenggukan, mengurungkan niat dan kembali duduk di sebelahku. Aku sedang ingin menawarkan hal-hal mustahil yang bahkan sebelum kuucapkan sudah kutebak jawaban mama atas ideku "Aku siap bekerja dari pagi hingga petang, Ma. Asal jangan di tempat itu," ucapku seraya memohon, mencoba meminta mama untuk berbaik hati mengurungkan niatnya atasku, tapi, bukankah luka bapak juga bukan suatu kejadian yang bisa diurungkan? "Kalaupun kamu bekerja pagi sampai malam, gajimu belum tentu cukup untuk membiayai pengobatan Bapak. Belum lagi gaji yang dibayar di akhir bulan, sementara Bapakmu meregang nyawa. Otakku tidak bisa lagi mencari solusi, selain apa yang sudah kusampaikan padamu." Mama ...

Altha: Diluar Nalar

Image
Sumber gambar: Google Suasana di ruang tamu terlihat sepi saat aku keluar kamar dan berusaha menghilangkan bekas air mata, mencoba terlihat baik-baik saja. Saat aku melintas di depan kamar nenek, terlihat beliau yang kusyu dalam salat malamnya, sementara mama di atas ranjang sudah tertidur lelap, mereka tidak melihat aku yang melintas untuk pura-pura ke kamar mandi, padahal ingin menyaksikan keadaan di luar kamar setelah terdengar ucapan yang menyakitkan. Aku masuk ke kamar mandi hanya pura-pura mencuci tangan dan melintas kembali di depan kamar nenek, otakku berpikir lebih jauh lagi setelah sebuah pengakuan gamblangnya beberapa menit yang lalu, mereka menyebut dirinya sebagai pekerja malam, tapi melihat nenek yang menangis di atas sajadahnya malam ini, rasa-rasanya seperti sebuah hal yang mustahil, mungkin karena image seorang pekerja malam bagi kebanyakan orang adalah buruk, padahal sebuah kenyataan yang tidak pernah mereka ketahui, selalu ada kemungkinan jika merekalah ya...